REVIEW SABTU BERSAMA BAPAK

cover buku Sabtu Bersama Bapak
image mega
Gunawan ayah dari Satya dan Cakra yang biasa dipanggil Saka oleh ibunya, Itje. Setelah periksa ke dokter Gunawan tahu usianya akan bertahan hanya selama setahun. Tanpa kawatir dan takut segalanya dipersiapkan dengan baik, untuk istri dan anaknya agar tidak merepotkan orang lain kelak kalau dia sudah tidak ada. Melalui handycam dia ingin tetap mendampingi pertumbuhan anaknya walaupun dia tidak ada. 30 rekaman yang Itje berikan seiring pertumbuhan putranya, jadi nostalgia kuch kuch hota hai nih yang mereka tonton setiap hari sabtu.

Usia 30 tahun Cakra yang sudah mapan, mungkin kelewat matang. Bahkan sudah memiliki rumah hasil jerih payah cicilannya. Tepat hari syukuran rumah, selama 3 jam harus melewati masa neraka Jomblo. Yah, bisa dikata sisi minus Cakra, dia kalah gagah dari Satya. Mungkin bukan hanya Satya, tapi lelaki pada umumnya.

“Guys, beneran, jangan khawatir. Jomblo itu pilihan.”

“Bener banget, Kang, gak ada yang milih Kakang.”

Sebenarnya yang jadi pikiran Cakra belum ingin menikah atau mencari seorang pacar. Dia ingin berada pada keadaan benar-benar mapan seperti dikatakan ayahnya dalam video yang diberikan saat usia 18 tahun.

Saat ini Satya sudah menikah dengan Rissa, dan memiliki tiga buah hati. Satya bekerja di kilang minyak membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Jarang pulang ke rumah, sekalipun pulang yang ditonjolkan hanya emosi, bahkan lewat telepon. Pribadi yang sangat temperamen membuat tiga anaknya takut, dan tertekan setiap bertemu atau mengobrol dengan Satya.

Rissa lelah dengan prilaku suaminya yang tidak pernah menghargai usahanya, dan selalu membuat anak-anak takut. Pemicu amarahnya pun persoalan sepele. Dani, putranya yang tidak bisa berenang, masakannya yang kurang enak. Lewat e-mail Rissa mengirim pesan pada Satya. Mengutarakan semua alasan yang selalu membuat dia marah. Di titik akhir kalimat Rissa menyarankan Satya tidak pulang ke rumah.

Melirik keadaan si jomblo sejati. Cakra sudah menyiapkan amunisi sendiri untuk membalas pertanyaan-pertanyaan dari bawahannya yang terkadang mereka diskusikan lewat e-mail.


From: Cakra Garnida
To: +all sales micro finance POD
Subject: Stop it!

Dear all,
Terima kasih atas waktu dan usaha kalian yang habiskan mencarikan saya jodoh. Memang saya akui, saya rada kering beberapa tahun terakhir ini. Pun demikian, saya ingin mengingatkan bahwa ada yang jauh lebih penting dari nasib saya seperti contohnya, achieve target 2016. Memang sudah growing 13% dari tahun lalu, tapi masih 95% dari target tahun ini. Jadi mohon konsentrasi ke sana. Atau mencoba menjawab soal matematika di bawah.

Jika kalian bertanya selama tiga tahun, kapan saya punya pacar, maka coba hitung berapa penurunan gaji kalian tahun depan.

Mari kita renungkan.

CG.


Isi e-mail masih membayang dalam benak Satya. Sepanjang beberapa hari bahkan dikala kerja, dia berusaha merenungkan kejadian dan prilakunya selama ini. Barulah disadari kehangatan dalam keluarganya tidaklah sama seperti dulu.

Satya menyadari kesalahan yang telah dilakukan dalam mendidik anak-anaknya, dan memperlakukan istrinya. Dia bertekad memperbaiki semua, akan lebih respek lagi pada anak dan istri. Tidak lagi mengandalkan emosi. 

Dilain hal tidak ada yang tahu kalau Itje sedang sakit. Gunawan pernah berpesan agar tidak merepotkan anak-anaknya. Dengan meninggalkan bekal berupa asset dan uang agar bisa hidup mandiri. Kalimat Gunawan terus mengingatkan ‘Belum tentu anak-anaknya kelak mampu menangani dirinya sendiri apalagi ibunya’. Intinya jangan jadi beban.  

Lama menanti, akhirnya Cakra telah menemukan wanita yang bisa mendampinginya dunia akhirat. Namanya Ayu, secantik namanya. Dia harus bersaing ketat dengan Salman. Lelaki yang tidak pantas dikatakan saingan. Tampang fisik terlebih keahlian menggaet wanita dialah pakarnya. Tapi Cakra benar-benar tidak ingin mundur, dia sangat menginginkan Ayu. Ditengah persaingan, mendadag Cakra dapat tugas ke Makassar selama sebulan. Pupus sudah rasanya harapan. Saat pulang dari tugas karyawannya mengabarkan Salman sudah menyatakan perasaannya pada Ayu. Selama ini setiap Cakra melemparkan pendekatan, Ayu selalu menjauh bahkan jika ingin jalan berdua, Salman selalu dia ajak. Daripada tidak sama sekali, Cakra tetap memberanikan diri mengatakan perasaannya walaupun akan ditolak.

Membaca judulnya, sampai menilai covernya, dalam pikiran saya lansung terbesit kayaknya ini sedih. Diluar dugaan, humor of sense penulis mampu membuat saya sakit perut. Khususnya pencarian cinta Arjuna, eh, Cakra masudnya benar-benar lucu. Sangat disarankan untuk lelaki dan wanita yang ingin berkeluarga maupun yang sudah berkeluarga membaca buku ini. Ada banyak pembelajaran yang bisa di peroleh dan menjadi renungan dalam berumah tangga. Utamanya konflik yang diangkat dalam cerita, merupakan kejadian umum dalam rumah tangga.

Bagian kekurangannya, ada sedikit tidak tepat menurut saya. Percakapan Cakra dan Ayu saat mengatakan ‘mencari pacar yang kuat agamanya’. Seandainya Cakra mengatakan ‘mencari pacar yang pribadinya baik’ menurut saya ini baru pas. Karena orang yang agamanya kuat tidak seharusnya mencari pacar. Tapi ya, tergantung sudut pemahaman masing-masing orang. Setelah membaca tuntas buku ini, sepertinya penulis memiliki pemahaman ‘orang yang shalat tepat waktu adalah orang yang sudah kuat agamanya’. Dipikir-pikir lagi, sebenarnya tidak bisa mengklaim orang ini agamanya kuat atau tidak karena tidak ada tolak ukur yang pasti, cuman tuhan yang tahu. Apa dinilai dari mata manusia belum tentu sama sama dengan tuhan. Terlepas ketidak tepatan yang ada, buku ini tetap recommended.  

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi inspirasi. Baca juga review buku The Girl on The Train
REVIEW SABTU BERSAMA BAPAK REVIEW SABTU BERSAMA BAPAK Reviewed by Ai No Hikari on 6:00 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.